
Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) 2026 kembali digelar sebagai bagian dari evaluasi pendidikan nasional. Tahun ini ada perubahan jadwal yang perlu diperhatikan setiap kepala sekolah dan guru, sebab keterlambatan bisa membuat sekolah kehilangan data penting untuk penyusunan Rapor Pendidikan.
Berbeda dari ujian pada umumnya, Sulingjar bukan alat untuk menilai kinerja perorangan. Survei ini justru dirancang untuk memotret kondisi nyata pembelajaran di sekolah, mulai dari iklim kelas, keamanan, hingga dukungan terhadap murid. Hasilnya nanti menjadi salah satu fondasi Perencanaan Berbasis Data (PBD) yang dipakai sekolah untuk menentukan prioritas program ke depan.
Bagi yang baru pertama kali terlibat, prosesnya memang terlihat rumit karena melibatkan token, NPSN, hingga sinkronisasi data Dapodik. Padahal jika sudah paham alurnya, pengisian Sulingjar bisa diselesaikan dalam waktu relatif singkat. Berikut panduan lengkapnya, mulai dari siapa saja yang wajib mengikuti, jadwal terbaru, sampai langkah-langkah pengisian.
Sulingjar diselenggarakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk memetakan kualitas proses belajar dan iklim sekolah secara daring di seluruh Indonesia. Peserta yang berhak mengisi survei ditentukan otomatis lewat data Dapodik, sehingga tidak semua pegawai sekolah otomatis mendapat akses.
Berikut pihak yang wajib mengikuti Sulingjar 2026:
Sementara itu, tenaga kependidikan seperti staf tata usaha atau tenaga administrasi lain tidak masuk sebagai peserta apabila tidak terdaftar sebagai pendidik di Dapodik.
Kemendikdasmen resmi mengubah jadwal pelaksanaan Sulingjar 2026 lewat Surat Edaran Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Nomor 0212/B/F/SK.02.02/2026 yang terbit 1 Juli 2026. Lewat surat itu, seluruh dinas pendidikan provinsi, Kantor Wilayah Kementerian Agama, hingga satuan pendidikan diminta menyesuaikan persiapan dengan jadwal baru.
Pengisian Sulingjar 2026 kini berlangsung mulai 20 Juli hingga 17 Agustus 2026, lebih maju dibanding rencana awal yaitu 3 Agustus sampai 31 Agustus 2026. Percepatan ini dilakukan agar proses penyusunan dan penerbitan Rapor Pendidikan 2026 bisa rampung lebih cepat.
Peserta tidak wajib mengisi survei pada hari pertama pembukaan. Selama masih dalam rentang waktu yang ditentukan, pengisian bisa dilakukan kapan saja. Namun sebaiknya jangan menunggu sampai mendekati batas akhir, karena jika terjadi kendala login atau sinkronisasi data, waktu perbaikan akan semakin sempit.
Kemendikdasmen turut menegaskan bahwa data yang dipakai dalam Sulingjar merupakan hasil pemutakhiran Dapodik hingga 30 Juni 2026, sehingga operator sekolah perlu memastikan data guru dan kepala sekolah sudah sesuai sebelum survei dibuka.
Token menjadi syarat wajib untuk masuk ke sistem Sulingjar, dan tidak bisa dibuat sendiri oleh guru atau kepala sekolah. Token ini dibagikan melalui operator sekolah lewat Dashboard Sulingjar. Berikut tahapannya:
Jika nama seorang guru belum muncul di dashboard, operator perlu mengecek ulang kesesuaian data di Dapodik sebelum survei dimulai. Bila laman login sempat bermasalah karena pengalihan domain, peserta disarankan menunggu pembaruan sistem atau mengikuti arahan resmi dari Kemendikdasmen maupun operator sekolah.
Setelah kartu login dan token diterima, peserta bisa langsung mengakses laman resmi Sulingjar. Pastikan data yang dimasukkan konsisten dengan Dapodik agar proses login tidak terganggu. Berikut langkah-langkahnya:
surveilingkunganbelajar.kemendikdasmen.go.id/login lewat laptop, komputer, tablet, atau ponsel yang terhubung internet.Persiapan yang matang akan mengurangi risiko gangguan teknis selama proses berlangsung. Berikut beberapa hal yang disarankan:
Sebagian peserta masih menganggap Sulingjar sekadar formalitas administratif. Padahal, setiap jawaban yang diberikan menjadi bagian dari data nasional tentang kondisi pembelajaran di sekolah, dan langsung memengaruhi hasil Rapor Pendidikan yang diterima sekolah tersebut.
Dari data itu, sekolah bisa mengetahui aspek yang sudah berjalan baik maupun yang masih perlu diperbaiki. Jawaban yang mencerminkan kondisi sebenarnya membantu kepala sekolah menyusun Perencanaan Berbasis Data, termasuk menentukan program peningkatan mutu, pelatihan guru, sampai prioritas anggaran sekolah.
Sebaliknya, jawaban yang tidak sesuai kondisi lapangan berisiko menghasilkan potret mutu yang kurang akurat, sehingga rekomendasi perbaikan yang diterima sekolah pun jadi kurang tepat sasaran. Karena itu, Kemendikdasmen melalui surat edaran terbarunya menekankan pentingnya keakuratan data demi mempercepat proses penyusunan Rapor Pendidikan 2026.
Dengan memahami jadwal, cara memperoleh token, dan langkah pengisian di atas, kepala sekolah dan guru diharapkan bisa menyelesaikan Sulingjar 2026 tepat waktu dan sesuai kondisi sekolah masing-masing.
No Comments