
Pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, yang berbunyi “Menikahlah karena Dajjal itu jomblo” kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Kalimat bernuansa humor tersebut banyak dibagikan ulang karena dinilai ringan, menghibur, sekaligus mengandung pesan agar umat Islam tidak menunda pernikahan ketika telah memiliki kemampuan.
Di balik kutipan yang populer tersebut, Gus Yahya sebenarnya dikenal sebagai tokoh yang kerap menyampaikan pandangan mengenai keislaman, kebangsaan, kemanusiaan, hingga pentingnya menjaga persatuan. Berbagai pernyataannya dalam forum nasional maupun internasional juga sering menjadi rujukan dalam diskusi mengenai Islam moderat dan perdamaian.
Berikut sejumlah kutipan Gus Yahya yang banyak dikenal publik selain ungkapan “Menikahlah karena Dajjal itu jomblo” beserta konteks maknanya.
Gus Yahya merupakan ulama yang kini menjabat sebagai Ketua Umum PBNU. Dalam berbagai kesempatan, ia dikenal menyampaikan materi keagamaan dengan bahasa yang ringan, komunikatif, dan sesekali diselingi humor.
Pendekatan tersebut membuat ceramahnya mudah diterima berbagai kalangan, terutama generasi muda. Meski terdengar santai, pesan yang disampaikan umumnya berkaitan dengan nilai-nilai Islam, kemanusiaan, serta tanggung jawab sosial.
Kalimat “Menikahlah karena Dajjal itu jomblo” sendiri disampaikan sebagai humor dakwah yang mengajak umat Islam untuk memandang pernikahan sebagai bagian dari ibadah, bukan sebagai beban. Ungkapan tersebut kemudian banyak dikutip berbagai media dan kanal dakwah.
Berikut beberapa pernyataan Gus Yahya yang kerap dikutip dalam berbagai forum maupun pemberitaan.
Kalimat ini menegaskan bahwa ajaran Islam membawa kemaslahatan, bukan permusuhan ataupun kebencian.
Menurut Gus Yahya, keberagaman merupakan realitas yang harus dikelola melalui dialog dan saling menghormati.
Ia berulang kali mengingatkan pentingnya menghadirkan nilai agama sebagai jalan penyelesaian persoalan sosial.
Dalam berbagai forum internasional, Gus Yahya menekankan bahwa dialog merupakan langkah awal membangun perdamaian.
Pernyataan ini sering disampaikan ketika membahas pentingnya menjaga persatuan bangsa.
Menurutnya, tradisi keagamaan perlu terus berkembang tanpa kehilangan nilai dasar yang diwariskan para ulama.
Pesan tersebut mengajak umat Islam menampilkan akhlak yang membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.
Gus Yahya menilai masyarakat Indonesia memiliki modal besar untuk hidup berdampingan karena terbiasa dengan keberagaman.
Ia beberapa kali mengingatkan bahwa setiap orang memiliki proses belajar dan perjalanan hidup yang berbeda.
Menurut Gus Yahya, tantangan zaman harus dijawab dengan ilmu, kerja sama, dan semangat memperbaiki keadaan.
Gaya penyampaian yang santai dinilai mampu membuat materi dakwah lebih dekat dengan masyarakat tanpa mengurangi substansi.
Kalimat “Menikahlah karena Dajjal itu jomblo” menjadi contoh bagaimana humor digunakan untuk menarik perhatian audiens sebelum menyampaikan pesan utama mengenai pentingnya menikah bagi mereka yang telah mampu.
Dalam tradisi dakwah Nusantara, pendekatan semacam ini bukan hal baru. Banyak ulama memanfaatkan humor sebagai sarana komunikasi agar pesan agama lebih mudah dipahami masyarakat. Pendekatan tersebut juga dinilai dapat mencairkan suasana tanpa mengurangi keseriusan materi yang disampaikan.
Sejumlah ulama pun menegaskan bahwa pernikahan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan bagi mereka yang memiliki kesiapan lahir dan batin. Hal ini sejalan dengan berbagai hadis yang mendorong umat Islam menjaga diri melalui pernikahan.
Selain dikenal melalui ceramah yang komunikatif, Gus Yahya juga aktif berbicara mengenai isu perdamaian dunia, dialog antaragama, dan kemanusiaan.
Dalam berbagai kesempatan, ia menyampaikan bahwa agama tidak boleh dijadikan alat pembenaran konflik. Menurutnya, tokoh agama memiliki tanggung jawab besar menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat.
Pandangan tersebut juga terlihat dalam berbagai forum nasional maupun internasional yang dihadirinya sebagai representasi PBNU. Salah satu pesannya adalah pentingnya membangun kehidupan bersama melalui dialog dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Popularitas kutipan “Menikahlah karena Dajjal itu jomblo” menunjukkan bahwa gaya komunikasi yang ringan dapat membuat pesan dakwah lebih mudah diingat. Namun, di balik humor tersebut, Gus Yahya memiliki banyak pandangan yang menekankan persaudaraan, moderasi beragama, kemanusiaan, dan pentingnya menjaga persatuan bangsa.