Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026: Ini Fenomena Langit yang Bisa Disaksikan

6 minutes reading View : 29
Maman Suparman
Maman Suparman
Info Publik - 07 Aug 2026

Langit dunia bakal disuguhi pertunjukan langka pada Rabu, 12 Agustus 2026. Dalam rentang waktu kurang dari 24 jam, empat fenomena astronomi terjadi hampir berurutan: gerhana matahari total, fase dikotomi Venus, puncak hujan meteor Perseid, hingga kemunculan Galaksi Bima Sakti di langit malam yang gelap total tanpa cahaya bulan.

Peristiwa utamanya adalah gerhana matahari total yang jalur totalitasnya melintasi Greenland, Islandia, Samudra Atlantik Utara, hingga Spanyol utara dan sedikit wilayah Portugal. Ini menjadi gerhana matahari total pertama yang bisa disaksikan dari daratan Eropa sejak tahun 1999, sehingga wajar bila banyak pemburu gerhana (eclipse chaser) sudah merencanakan perjalanan jauh-jauh hari untuk menyaksikannya secara langsung.

Sayangnya, warga Indonesia tidak akan bisa menyaksikan gerhana ini secara langsung dari langit tanah air. Jalur bayangan bulan, baik area totalitas (umbra) maupun gerhana sebagian (penumbra), sama sekali tidak melintasi wilayah Asia Tenggara. Meski begitu, rangkaian fenomena langit pada tanggal tersebut tetap layak diikuti, setidaknya lewat siaran langsung dari lembaga antariksa dunia.

Rangkuman Cepat

  • Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026: melintasi Siberia utara, Greenland timur, Islandia barat, Atlantik Utara, hingga Spanyol utara dan Portugal. Indonesia berada di luar jalur sehingga tidak bisa mengamatinya secara langsung.
  • Empat atraksi langit dalam 24 jam: diawali gerhana matahari di siang-sore hari, dilanjutkan fase dikotomi Venus saat senja, lalu puncak hujan meteor Perseid pada malam tanpa bulan, dan Bima Sakti yang tampak jelas di langit gelap.
  • Standar keselamatan: pengamatan matahari langsung wajib menggunakan kacamata gerhana bersertifikat ISO 12312-2, serta filter khusus pada lensa kamera ponsel maupun teleskop.

Jadwal dan Jalur Lintasan Gerhana Matahari Total

Gerhana matahari total terjadi saat posisi Bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari sehingga menutup penuh piringan matahari di wilayah yang dilalui bayangan inti (umbra). Menurut data NASA, gerhana pada 12 Agustus 2026 dimulai dari kawasan Semenanjung Taymyr di Siberia, Rusia, lalu melengkung melewati Kutub Utara sebelum turun ke Greenland bagian timur.

Dari sana, jalur totalitas menyeberangi Samudra Atlantik Utara, melintasi pesisir barat Islandia, lalu berakhir di Spanyol utara dan sudut kecil Portugal menjelang matahari terbenam—fenomena yang dikenal sebagai sunset eclipse. Lebar jalur totalitas diperkirakan sekitar 300 kilometer, dengan durasi totalitas terlama mencapai 2 menit 18 detik di kawasan Atlantik.

Baca Juga:  Cara Cek Bansos BPNT Juli 2026, PKH Tahap 3 Sudah Mulai Cair

Cakupan Wilayah Pengamatan

Wilayah PengamatanJenis GerhanaCakupan / Durasi Puncak
Greenland & Atlantik UtaraGerhana TotalTotalitas hingga 2 menit 18 detik (terlama)
Islandia BaratGerhana TotalTotalitas sekitar 1–2 menit
Spanyol Utara & PortugalGerhana Total (sore hari)Totalitas sekitar 1,5 menit, menjelang sunset
Eropa daratan (London, Paris)Gerhana ParsialCakupan penutupan 80%–93%
Amerika Utara (Alaska hingga Kanada)Gerhana ParsialCakupan penutupan bervariasi, sebagian wilayah Kanada di atas 90%
IndonesiaTidak TerlihatBerada di luar jalur bayangan

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyebutkan gerhana kali ini akan melintasi Greenland, Islandia, Rusia utara, Samudra Atlantik, Spanyol, dan sudut kecil Portugal, sementara sebagian besar wilayah Belahan Bumi Utara lainnya hanya akan menyaksikan gerhana sebagian. NASA juga berencana menyiarkan langsung momen gerhana ini secara daring bagi masyarakat yang berada di luar jalur totalitas, termasuk Indonesia.

Catatan Penting bagi Calon Pengamat

Bagi warga Indonesia, satu-satunya cara menyaksikan momen gerhana 12 Agustus 2026 adalah melalui siaran langsung dari lembaga antariksa dunia seperti NASA maupun Badan Antariksa Eropa (ESA), karena jalur bayangan bulan sama sekali tidak menyentuh kawasan Asia Tenggara.

Sementara itu, bagi pengamat yang berencana menyaksikan langsung dari Spanyol, perlu diperhatikan bahwa gerhana total di sana terjadi saat posisi matahari sudah sangat rendah mendekati ufuk barat. Karena itu, disarankan memilih lokasi pengamatan dengan pandangan barat yang terbuka dan bebas halangan seperti bukit, gedung tinggi, atau pepohonan lebat.

Kombinasi Empat Atraksi Langit Langka dalam 24 Jam

Rangkaian fenomena pada 12–13 Agustus 2026 disebut sejumlah pengamat astronomi sebagai salah satu kombinasi pengamatan langit terbaik sepanjang tahun ini, karena empat peristiwa berbeda terjadi nyaris berurutan.

Baca Juga:  Cara Pindah Faskes BPJS Kesehatan Lewat Mobile JKN Terbaru

Gerhana Matahari Total dan Parsial (Siang–Sore Hari)

Ratusan juta orang di Amerika Utara, Eropa, dan Afrika Utara diperkirakan bisa menyaksikan setidaknya gerhana sebagian dengan cakupan minimal 10 persen. Di jalur totalitas, langit meredup mendadak layaknya senja di tengah hari, suhu udara ikut turun sesaat, dan korona matahari—lapisan atmosfer terluar matahari yang biasanya tak terlihat—akan tampak bercahaya mengelilingi piringan bulan yang menutup matahari.

Fase Dikotomi Venus (Setelah Matahari Terbenam)

Setelah matahari tenggelam, planet Venus akan bersinar terang di ufuk barat. Pada momen ini, Venus berada dalam fase dikotomi, yakni kondisi ketika separuh permukaannya yang menghadap Bumi tampak diterangi cahaya matahari, mirip tampilan bulan separuh. Fenomena ini dapat diamati menggunakan teropong berukuran besar atau teleskop kecil.

Puncak Hujan Meteor Perseid (Malam 12–13 Agustus)

Momen ini bertepatan dengan fase Bulan Baru, sehingga langit malam benar-benar gelap tanpa gangguan cahaya bulan. Kondisi ini membuat meteor-meteor redup sekalipun tetap dapat terlihat jelas. Diperkirakan 50 hingga 75 meteor dapat melintas setiap jamnya pada saat puncak hujan meteor Perseid.

Kemunculan Galaksi Bima Sakti (Tengah Malam)

Di lokasi pedesaan yang minim polusi cahaya, pita cahaya Galaksi Bima Sakti akan tampak membentang di langit malam. Kombinasi langit gelap akibat fase bulan baru membuat momen ini menjadi kesempatan ideal bagi pehobi astrofotografi.

Panduan Aman Mengamati dan Mendokumentasikan Fenomena Langit

Berikut sejumlah langkah praktis yang perlu diperhatikan, baik bagi yang berencana bepergian ke luar negeri untuk menyaksikan gerhana maupun yang hanya ingin mengamati hujan meteor dari lokasi gelap di sekitar tempat tinggal.

Gunakan Kacamata Gerhana Bersertifikat ISO 12312-2

Jangan pernah menatap piringan matahari secara langsung tanpa kacamata gerhana bersertifikat ISO 12312-2. Kacamata hitam biasa tidak memiliki filter yang cukup untuk menahan radiasi inframerah dan ultraviolet yang berbahaya bagi mata.

Baca Juga:  Kenapa Nama Bisa Hilang dari DTKS? Ini 5 Penyebab dan Cara Mengatasinya

Pasang Filter Solar pada Lensa Kamera dan Teleskop

Sebelum mengarahkan kamera ponsel, teropong, atau teleskop ke arah matahari, pastikan filter solar khusus sudah terpasang di depan lensa utama. Mengarahkan lensa langsung ke matahari tanpa filter berisiko merusak sensor kamera secara permanen.

Pilih Lokasi Bebas Polusi Cahaya untuk Mengamati Meteor

Untuk menikmati puncak hujan meteor Perseid, tidak diperlukan alat optik khusus. Cukup cari lokasi terbuka seperti kawasan pegunungan atau pantai yang jauh dari lampu kota agar meteor lebih mudah terlihat.

Waktu Pengamatan Terbaik: Tengah Malam hingga Pukul 02.00

Pengamatan hujan meteor berada pada kondisi optimal saat titik radian rasi Perseus berada di posisi tertinggi di langit, yaitu sekitar pukul 00.00 hingga 02.00 waktu setempat.

Gunakan Mode Manual pada Kamera Ponsel

Untuk mengabadikan jejak meteor atau Galaksi Bima Sakti dengan kamera ponsel, letakkan perangkat pada tripod yang stabil. Gunakan mode Pro atau Manual, atur ISO pada kisaran 1600–3200, dan waktu rana (shutter speed) sekitar 10–30 detik.

Kapan Gerhana Matahari Total Berikutnya?

Bagi yang belum berkesempatan menyaksikan gerhana Agustus 2026, NASA telah mengonfirmasi gerhana matahari total berikutnya akan terjadi pada 2 Agustus 2027. Gerhana tersebut diprediksi menjadi salah satu yang paling spektakuler di abad ini, dengan jalur totalitas melintasi Spanyol selatan, Afrika Utara (Maroko, Aljazair, Libya, Mesir), hingga sebagian Timur Tengah seperti Arab Saudi, Yaman, dan Somalia.

Di kawasan Luxor, Mesir, durasi totalitas diperkirakan berlangsung sangat lama, lebih dari 6 menit—menjadikannya salah satu gerhana matahari total dengan durasi totalitas terpanjang yang pernah tercatat.

Share Copied