
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menegaskan pentingnya peran konstruktif perempuan Nahdlatul Ulama (NU) saat membuka Program NU Women. Menurutnya, inisiatif tersebut bukan sekadar membahas isu kesetaraan gender, melainkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat kontribusi perempuan dalam membangun masyarakat, keluarga, dan peradaban.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena menegaskan arah pengembangan organisasi perempuan di lingkungan NU menjelang abad kedua Nahdlatul Ulama. Gus Yahya menilai penguatan kapasitas perempuan merupakan bagian penting dari agenda besar organisasi dalam menghadapi tantangan sosial yang terus berkembang.
Program NU Women sendiri dirancang sebagai ruang penyusunan kerangka kerja dan peta jalan gerakan perempuan NU agar semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Dalam pidato pembukaannya, Gus Yahya menekankan bahwa NU sejak lama memiliki perhatian terhadap posisi perempuan. Karena itu, menurutnya, pembahasan mengenai NU Women tidak berhenti pada persoalan kesetaraan gender semata.
Ia menjelaskan bahwa organisasi justru ingin memastikan perempuan NU mampu mengambil peran yang lebih besar dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat melalui peningkatan kapasitas, kompetensi, dan kualitas kepemimpinan.
Menurut Gus Yahya, pendekatan tersebut lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia yang memiliki karakter sosial dan budaya yang beragam. Oleh sebab itu, agenda NU Women diarahkan untuk menghasilkan strategi nyata dalam memperkuat kiprah perempuan di berbagai bidang kehidupan.
Pelaksanaan Program NU Women juga menjadi bagian dari penyusunan blueprint dan roadmap gerakan perempuan NU memasuki abad kedua organisasi.
Dokumen tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi berbagai badan otonom maupun jaringan perempuan NU dalam menyusun program yang lebih terarah, berkelanjutan, dan berdampak bagi masyarakat.
Melalui penyusunan peta jalan tersebut, PBNU ingin memastikan bahwa pemberdayaan perempuan tidak hanya berlangsung pada level wacana, tetapi diterjemahkan menjadi program konkret di bidang pendidikan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan keluarga, penguatan komunitas, hingga kepemimpinan sosial.
Gus Yahya menilai langkah tersebut penting agar gerakan perempuan NU mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas keislaman yang menjadi fondasi organisasi.
Pandangan mengenai pentingnya peran perempuan juga kembali disampaikan Gus Yahya dalam berbagai kesempatan sepanjang 2026.
Saat menerima kunjungan Women’s Wing dari People’s Action Party (PAP) Singapura, ia menyampaikan bahwa perempuan memiliki posisi yang sangat strategis dalam kehidupan masyarakat.
Menurutnya, meskipun kepemimpinan formal dalam berbagai komunitas sering kali lebih terlihat dijalankan laki-laki, aktivitas kehidupan sehari-hari justru banyak ditopang oleh perempuan.
Karena itu, peningkatan kualitas perempuan dinilai akan memberikan dampak langsung terhadap kualitas keluarga, komunitas, hingga kehidupan sosial secara lebih luas.
Pandangan tersebut memperkuat arah kebijakan PBNU yang menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia dan penguatan masyarakat.
Gagasan yang disampaikan Gus Yahya juga sejalan dengan berbagai gerakan pemberdayaan perempuan di lingkungan NU.
Dalam sejumlah program organisasi, perempuan didorong untuk semakin aktif dalam pendidikan, kewirausahaan, pelayanan sosial, penguatan keluarga, hingga pengembangan kepemimpinan di tingkat komunitas.
Berbagai organisasi perempuan di bawah naungan NU selama ini telah berperan dalam memperluas akses pendidikan, pelayanan kesehatan masyarakat, pemberdayaan ekonomi keluarga, serta pendampingan kelompok rentan.
Melalui Program NU Women, upaya tersebut diharapkan semakin terintegrasi sehingga mampu menghasilkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat Indonesia.
PBNU menilai perubahan sosial, perkembangan teknologi, hingga dinamika ekonomi menuntut adanya peningkatan kapasitas seluruh elemen organisasi, termasuk perempuan.
Dalam konteks tersebut, NU Women dipandang sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat kesiapan perempuan menghadapi tantangan baru tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi dasar perjuangan Nahdlatul Ulama.
Pemberdayaan perempuan juga dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam menciptakan keluarga yang tangguh, meningkatkan kualitas pendidikan generasi muda, serta memperkuat ketahanan sosial masyarakat.
Karena itu, penyusunan roadmap gerakan perempuan tidak hanya berorientasi pada kepentingan organisasi, tetapi juga diarahkan untuk memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional.
Memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama, PBNU terus mendorong pembaruan berbagai program strategis, termasuk penguatan peran perempuan.
Program NU Women menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut dengan menyiapkan kerangka kebijakan yang dapat menjadi acuan bagi seluruh jaringan organisasi perempuan NU di berbagai daerah.
Melalui pendekatan tersebut, PBNU berharap perempuan NU tidak hanya menjadi bagian dari struktur organisasi, tetapi juga menjadi motor penggerak pembangunan masyarakat melalui kontribusi yang konstruktif, inklusif, dan berkelanjutan.
Dengan penegasan yang disampaikan Gus Yahya, Program NU Women diharapkan mampu melahirkan berbagai gagasan dan program yang memperkuat kualitas peran perempuan NU sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi bangsa dan masyarakat.