Opini

Trans7 Membanting Adab Demi Rating

𝙀𝙣𝙩𝙖𝙝 π™¨π™šπ™Ÿπ™–π™  𝙠𝙖π™₯𝙖𝙣 π™ π™–π™’π™šπ™§π™– 𝙒π™ͺπ™‘π™–π™ž π™’π™šπ™§π™–π™¨π™– π™‘π™šπ™—π™žπ™ π™–π™‘π™žπ™’ π™™π™–π™§π™ž π™†π™žπ™–π™ž, 𝙙𝙖𝙣 π™’π™žπ™ π™§π™€π™›π™€π™£ π™‘π™šπ™—π™žπ™ π™₯𝙖𝙣𝙩𝙖𝙨 π™—π™šπ™§π™˜π™šπ™§π™–π™’π™–π™ π™™π™–π™§π™žπ™₯𝙖𝙙𝙖 π™¨π™–π™£π™©π™§π™ž.

PERADABAN.ID – Saya bukan siapa-siapa. Hanya seorang santri dusun yang dulu pernah ngemper nyantri di satu pondok, pernah ikut bantu di ndalem Kiai, nyapu ruang tamu ndalem, nyuci piring habis jamuan tamu-tamu Yai, dan sesekali sowan sambil deg-degan takut salah duduk. Tapi dari situlah saya belajar bahwa di balik sederhana dan repotnya hidup di pesantren, ada makna besar tentang bagaimana manusia menata diri di hadapan ilmu dan guru.

Makanya, sewaktu saya lihat tayangan salah satu program Trans7 yang menampilkan potongan video Pondok Pesantren Lirboyo meghilangkan konteks dengan framing seolah para santri itu budak dan Kyai memperkaya diri dari santrinya, saya cuma bisa geleng kepala. Bukan sekedar marah, tapi juga sedih. Sedih yang menyesakkan. Dengan amarah yang tertahan di dada, getir di tenggorokan, dan perasaan ingin menangis saat melihat para Kiai yang kami hormati difitnah secara keji oleh media yang bahkan tak paham ruh kehidupan pesantren. Karena yang mereka potret itu bukan realitas, melainkan bayangan gelap dari ketidaktahuan dan kesombongan.

Wahai para outsider ketahuilah, dalam dunia pesantren, hal pertama yang ditanamkan bukan ilmu, tapi adab. Sebelum boleh bicara di majelis ngaji, santri belajar diam di hadapan Kiai. Sebelum bandongan kitab, kita belajar duduk taat dan rapi, menyimak setiap kalimat yang dilafalkan Kiai dengan penuh takzim. Sebelum menuntut hak, belajar melayani dengan ikhlas. Tapi tampaknya dunia media modern tak mengenal itu. Mereka merasa bebas berbicara atas nama kebebasan pers, namun lupa bahwa kebebasan tanpa adab hanyalah kesombongan yang dibungkus mikrofon.

Baca juga: Gus Yaqut: Aristoteles dan Teladan Pemimpin Paripurna

Trans7, dalam tayangannya itu, seolah ingin membuka β€œkebenaran tersembunyi” tentang kehidupan santri. Padahal yang mereka tampilkan bukanlah kebenaran, melainkan ketidakpahaman yang dipaksakan menjadi opini. Dalam kajian ilmu komunikasi disebut framing: memilih sudut pandang tertentu untuk menggiring makna dan mengiris keutuhan realita. Namun di pesantren, kami lebih mengenalnya sebagai su’uzdhan atau wak prasangka buruk yang menutup pintu keberkahan.

Saya teringat pesan Kiai saya, waktu pertama kali disuruh oleh Gus, putra ragil beliau, yang kebetulan juga jadi mukallid saya, untuk bantu-bantu di ndalem. Kyai berpesan: β€œSing penting niatmu khidmah, ora kerja. Khidmah iku ngasah hati, kerja iku cuma ngasah tangan.” Bagi kami, khidmah kepada Kyai bukan bentuk perbudakan, melainkan latihan penyucian diri. Tapi media seperti Trans7 tak akan pernah paham hal itu. Mereka melihat santri yang mencuci piring atau menyapu ndalem dan bahkan Ro’an (Gotong Royong kerja bhakti) sebagai bentuk dan tanda ketertindasan, bukan sebagai proses tazkiyah penyucian jiwa dan tabarukan. Dalam pandangan mereka, setiap relasi harus diukur dengan logika kuasa dan materi. Padahal di pesantren, logika itu justru ditundukkan demi menjaga keikhlasan niat.

Di sinilah jurang antara logika pesantren dan logika media. Dunia pesantren berangkat dari cinta dan penghormatan, sementara dunia media hari ini berangkat dari sensasi dan pasar. Maka, ketika tayangan dibuat hanya untuk menggugah kehebohan, ia kehilangan kemuliaannya sebagai sarana pencerdasan. Seperti kata orang bijak, kini bukan lagi zaman orang mencari kebenaran, tapi zaman orang mencari penonton. Media bukan lagi jendela dunia, melainkan etalase pasar. Yang dijual bukan lagi berita, tapi sensasi. Yang dicari bukan kejujuran, tapi rating dan traffict.

Trans7 adalah contoh nyata dari itu. Mereka kehabisan ide, kehilangan kedalaman, lalu mencoba mengais perhatian lewat hal-hal yang menyinggung nurani umat. Framing terhadap pesantren bukan sekadar kekeliruan jurnalistik, tapi strategi bertahan hidup dalam ekonomi tontonan. Dan jika untuk bertahan hidup mereka harus menginjak martabat pesantren, maka mereka bukan lagi jurnalis, mereka hanya tengkulak sekaligus pengecer isu. Dalam istilah Al-Ghazali, itu bukan ahlul β€˜ilm, tapi ahlud dunya yang menyamar jadi pencari kebenaran.

Dalam kitab Taβ€˜lim al-Mutaβ€˜allim, ada kalimat yang sering diulang para masayikh: β€œIlmu tidak akan didapat kecuali dengan menghormati guru.” Kalimat sederhana itu menjelaskan segalanya. Itulah sebabnya santri rela ngemper di depan ndalem bukan karena disuruh, tapi karena ingin ngalap berkah. Kami tahu, setetes ilmu yang keluar dari hati guru tak akan sampai ke hati murid yang sombong. Dan di sinilah letak kesalahan fatal media modern yang mengalami disrupsi: mereka membaca hubungan antar manusia hanya dengan kacamata relasi kuasa, bukan dengan kasih sayang. Hubungan santri dan Kiai bukan relasi vertikal, melainkan relasi spiritual, sebuah jembatan antara ilmu dan keikhlasan. Media dan sebagian orang gagal membaca bahasa diam, gagal memahami tata krama sebagai jalan ilmu.

Masalahnya bukan hanya soal pesantren disalahpahami, tapi soal krisis ruhani dalam komunikasi modern. Ketika kamera dianggap lebih objektif dari nurani, ketika editor merasa lebih tahu daripada pelaku sejarah, dan ketika rating lebih penting dari kebenaran, maka media telah kehilangan ruh amanah. Trans7 mungkin merasa sedang menegakkan kebebasan pers, tapi sesungguhnya mereka sedang kehilangan yang paling berharga: kepercayaan publik. Ketika media kehilangan wibawanya di mata umat, yang tersisa hanya riuh rendah tanpa ruh, suara tanpa makna di lorong sejarah.

Kami para santri tidak anti kritik. Kami belajar berpikir kritis dari kitab-kitab kuning. Kami tahu manusia bisa salah, bahkan Kiai pun manusia. Tapi ada garis halus antara kritik dan penghinaan, antara mencari kebenaran dan menjual fitnah. Pesantren bukan lembaga yang sempurna, tapi ia adalah tiang moral bangsa. Dari pesantren lahir ulama, Kyai-kyai pejuang, dan guru-guru bangsa yang mengajarkan kesabaran di tengah hiruk pikuk silang sengkarut dunia. Maka ketika media mencoba merusak makna itu dengan framing murahan dan bahkan fitnah, maka kami tidak akan tinggal diam. Bukan untuk membalas, tapi untuk menjaga marwah ilmu dan menjaga muru’ah. Karena jika ilmu dan adab hilang dari ruang publik, yang tersisa hanyalah kebodohan yang bersuara keras.

Dalam dunia santri, kami diajarkan satu hal: β€œOrang yang tak punya adab, tak akan punya keberkahan.” Barangkali itu juga pesan untuk media hari ini. Kebebasan pers memang sudah sewjarnya, tapi tanpa adab, ia hanyalah kesewenang-wenangan yang dibungkus idealisme kering. Trans7 boleh punya kamera, tapi kami punya sirah dan sanad yang merupakan jejak panjang para ulama dan guru. Mereka punya studio, kami punya sejarah. Dan sejarah selalu berpihak kepada mereka yang menjaga kehormatan ilmu.

Maka biarlah kami para santri terus mengaji, nyapu, khidmah dan ro’an di pondok. Karena kami tahu, dari tempat-tempat sunyi seperti itu, lahir cahaya yang tak bisa dipadamkan oleh framing dan fitnah murahan mana pun.


Ahmad Taufiq, Santri Dusun

Related Articles

Back to top button