Surabaya-Batavia, Ansor dalam Imajinasi Jejak Langkah

PERABADAN.ID – Satu yang terngiang dalam Jejak Langkah karya Pram, kadang bukan tentang getirnya Minke yang ditabuh nasib naas setelah ditinggal Annelies Mallema untuk selamanya. Atau setelah menemukan gadis bermata sipit dengan kulit putih nan halus, Ang San Mei.
Bukan juga setelah bertemu dengan seorang putri Kerajaan Maluku bernama Princess Van Kasiruta. Kisah asmara itu, membuka imajinasi saya tentang perjuangan yang semakin mekar. Dan mungkin, asmara inang semata dari pikiran yang tebuka untuk implementasi perjuangan.
Dari Surabaya menuju Batavia, menjadi kilas perjalanan yang merampungkan gerakan kudu lengkap dan adaptif. Organisasi, termasuk melalui pena, Minke melawan.
Akhirnya, buku ketiga dalam tetralogi itu begitu lengkap menceritakan kisah-kisah kasih hubungan asmara, keterbukaan pikiran dan perjuangan, sampai implementasi gerakan melalui wadah organisasi dan tangan yang tak hentinya menulis.
Baca juga:
- Bu(k)bar & Pengajian, Ketum GP Ansor Bertekad Bangun Peta Jalan Generasi Muda Indonesia
- BCA Mobile Lifestyle NU Care-Lazisnu Jadi Fitur Baru Permudah Nasabah Beri Donasi dan Zakat
Gelagat ini, bagi saya sangat intim dengan lebirin-labirin perjuangan yang terus menemukan tantangan di dalam zamannya, di dalam konteks daerahnya.
Saya seperti bercermin dan menemukan pantulan seruan yang berbunyi “gerakan harus hidup dengan pikiran-pikiran yang bernas dan adaptif. Kapasitas mental dan keberanian yang terlatih harus diasah biar tidak tenggelam dalam hiruk pikuk zamannya”.
Pelataran Warung Apresiasi Bulungan, di sebuah kawasan Jakarta Selatan, tetiba ramai. Bangku-bangku diisi paras kaum muda. Jika tidak keliru, menjelang petang sebelum beduk mengabarkan buka acara itu dimulai.
Terhentak, Gerakan Pemuda Ansor menggelar acara yang tidak biasa. Sebuah daerah yang nyaris belum tersentuh. Ruang-ruang anak muda yang menjadi jantung percakapannya, Ansor melangkah hadir.
Untuk kali pertama – mungkin, perluasan nilai dan peran GP Ansor dihempaskan di pelataran tempat nongkrong anak jaksel.
Dunia ke depan, ucap Ketua Umum GP Ansor Addin Jauharudin, akan diisi oleh anak-anak muda. Maka kegiatan seperti ini akan terus kita laksanakan di berbagai pusat pertemuan anak muda di seluruh Indonesia.
Baca juga:
- Ngaji Qonun Asasi NU #8: Islam Agama Peradaban
- Tigabelas sampai Delapanbelas Serdadu yang Menembakkan Senjata
Realitas dunia, menurut pria yang terpilih di atas Perairan Laut Jawa itu, semakin kompetitif membutuhkan manusia-manusia yang kompeten dan terlatih. Dan GP Ansor memiliki tanggung jawab moral bahkan sejarah, untuk mempersiapkan kader-kader muda yang tangguh.
Imajinasi Jejak Langkah, tetiba menjadi virus yang menggerogoti kepala saya saat melihat gelaran BU(K)BAR DAN PENGAJIAN itu dilaksanakan.
Entah, berlebihan mungkin. Tapi bisa jadi, spiritnya itu serupa dalam lanskap perjuangan untuk masa depan dan zamannya.




2 Comments