Berita

SLB Ma’arif Muntilan, Rumah Pendidikan Kelompok Rentan

PERADABAN.ID – Sagimin Dirdjo Susanto, memulainya dengan alasan kemanusiaan. Sagimin menaruh simpati pada tiga orang anak tunarungu yang hidup dalam satu keluarga, lalu menghibahkan rumahnya menjadi tempat belajar bagi kelompok difabel. Tepat tahun 1984, tempat pendidikan yang bermula dari sepetak rumah itu, kini berubah menjadi SLB Ma’arif Muntilan.

Dalam perkembangannya, satu-satunya lembaga pendidikan berkebutuhan khusus yang dipunyai warga Nahdlatul Ulama (NU) ini juga menerima kelompok rentan lain selain tunarungu.

Berlokasi strategis di tengah kota Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, SLB Ma’arif diapit oleh SMK Muhammadiyah 2 dari sisi bagian Timur. Wilayah bagian Barat, berbatasan dengan SMA 1 Muntilan. Sementara dari sisi Selatan dan Utara, masing-masing diapit oleh SMP Negeri 3 Muntilan dan SD, SMP, SMA Bentara Wacana.

Baca juga:

Di masing-masing sudut sekolah, akan terlihat bangku tunggu yang disediakan sebagai ruang tunggu. Dalam ruang kelas, seperti pada lazimnya terdapat fasilitas seperti meja, papan tulis dan kursi. Masing-masing kelas, diisi siswa 5 – 10 siswa.

Tercatat pada tahun 2017, mulai dari SDLB sampai tingkatan SMALB, jumlah siswa berkisar 170 orang yang terdiri dari kelompok tunarungu, tunanetra, dan tunagrahita dengan jumlah guru sebanyak 25 orang.

Kian meningkatnya jumlah siswa, pernah membuat SLB Maarif tertatih. Jumlah siswa melampaui kapasitas. Perluasan sekolah mulai digarap, sejumlah kegiatan digelar. Konser amal Didi Kempot (Alm.) sempat menyanyikan isak kepedulian untun membantunya, kendati belum juga cukup.

“Sekolah kami over load jumlah siswa, kami sering menolak siswa berkebutuhan khusus karena kapasitasnya minim. Saat ini kapasitas cuma untuk 100 siswa, namun kami paksakan mencapai 190 siswa saat ini,” papar Sugiranto, Kepala Sekolah SLB Maarif Muntilan dikutip dari laman borobudurnews.

Mengenai keterbatasan fasilitas untuk memenuhi hak kelompok difabel, sebenarnya hanya satu deretan dari sekian luasnya problem pendidikan bagi mereka. Merujuk pada data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas 2020), dapat dilihat bahwa sekitar 12,91% tidak/belum pernah bersekolah dan 27,74% tidak tamat SD. Sementara, 29,58% SD sederajat, 10,35% SMP sederajat, 14,31% SMA sederajat, dan 5,12% PT sederajat.

Sederet problem yang menyertai kelompok difabel dan pendidikan menjadi hal yang serius. Ditambah lagi beberapa persoalan seperti perundungan yang menimpa kelompok difabel.

Tidak Dibatasi Keterbatasan

Oleh sebab keterbatasan, metode pembelajaran dilakukan dengan cara berbeda. Anak tunanetra dibekali pembelajaran dengan metode orientasi dan mobilitas (OM). Metode ini digunakan untuk mengenali lingkungan seperti mengenali mobil, guru berjalan, menjuju pasar, dan suara detak sepatu.

Bagi tunarungu digunakan metode bina persepsi diri dan irama untuk mengenali irama. Si anak didik bisa mengenal ketukan, lankah kaki. Dedangkan bagi mereka yang tunagrahita, metode yang digunakan pada mereka adalah mengenal kehidupan sehari-hari atau activity daily learning (ADL). Penerapannya adalah bagaimana mereka menggunakan baju, kaos kaki, celana dan menyisir rambut.

Baca juga:

“Bagi siswa yang sudah meningkat kepribadian dan tanggung jawabnya akan diberikan Pelajaran khusu, seperti membuat kue atau memasukkan produk dalam kemasan,” kata Sugiranto.

Keterbatasan fisik, tidak mengakhir mimpi para siswa untuk mengukir prestasi. Dikutip dari lama resmi SLB Ma’arif Muntilan, pada tahun 2022, Nuria Oki Rahmadani dan Yuanita Hidayatai mewakili sekolah dalam sepak bola putri di Unified South East Asia Football Cup di Bangok, Thailand, mendapatkan medali emas.

Tidak hanya itu, SLB Ma’arif Muntilan juga terlibat dalam perlombaan. Salah satunya terlibat dalam Islamic Virtual Competition. Sejumlah kegiatan ekstrakurikuler dilakukan untuk menggali bakat para siswa, seperti drum band, tenis meja, renang, bocce, atletik, hingga badminton. Kegiatan lainnya berupa pengasahan keterampilan siswa, mulai dari pembuatan batik jumputan, menjahit, dan ecoprint.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button