Opini

Risalah tentang Khilafah

PERADABAN.ID – Era modern seringkali didekatkan dengan definisi manusia sebagai “khilafah” yang memaksimalkan potensi akal dan pikirannya.

Pendeknya, manusia berpikir secara rasional, sistematis, selalu optimis dan lalu pesimis, objektif dan melihat jauh ke depan.

Lonjakan ilmu pengetahuan membuat masyarakat modern terkotak-kotak di bidang pekerjaan. Dan memang sepatutnya begitu.

Konon, ilmu tidak dapat mengubah watak, alih-alih justru memperkuat ekspresinya.

Manusia modern menghargai pekerjaan sesuai dengan kualitas keilmuannya. Orang modern harus menjadi orang yang berilmu dan terpelajar–sejak dalam pikiran.

Hanya saja, definisi modernitas peradaban manusia sebagai “khilafah” dalam pandangan al-Qur’an tidak dekat dengan hal-ihwal kemajuan teknologi, kemewahan, dan perkembangan material lainnya.

Mungkin anda juga suka

Modernitas dalam al-Qur’an ditandai oleh perilaku yang selalu berpijak pada nilai-nilai dan moral agama. Karena itu cara hidup Nabi sehari-hari disebut sebagai potret manusia modern.

Salah satu nilai modernitas menurut al-Qur’an adalah kita dilarang memasuki area yang tidak kita ketahui (Surah al-Isra’:36).

Penjabaran ayat ini sangat luas, karena menyangkut keahlian dan spesialisasi di semua bidang kehidupan. Manusia modern, pada dasarnya, bisa mendalami semua spesialisasi keilmuan yang ada, baik di ruang lingkup sosial maupun ilmu eksakta. 

Dalam al-Qur’an kita bisa menemukan banyak sekali ayat yang berkaitan dengan kaum perempuan. Seperti surah an-Nisa, surah Maryam, surah al-Mujadilah, surah al Mumtahanah, surah at-Tahrim, surah at-Thalaq.

Selain dekat, banyak surah memuat prototipe perempuan yang mendapat pujian dari al-Qur’an. Seperti Siti Sarah (surah Hud 71-73 dan surah adz-Dzariyat 29-30), Siti Asiyah (surah at-Tahrim: 11), Ratu Balqis (surah an-Naml: 23-44), kedua putri Syekh Madyan (surah al-Qashas: 23-29), kisah istri-istri Nabi (surah al-Ahzab: 28-34), Siti Aisyah (surah an-Nur:11-26).  

Dalam beberapa surah yang disebut di atas, ditemukan banyak peristiwa luar biasa yang menopang derajat perempuan.

Mungkin anda juga suka

Di masa Nabi Muhammad saw sendiri, derajat perempuan diangkat setinggi-tingginya. Sahih jika kita kemudian al-Qur’an dikenal sebagai kitab suci pembebasan bagi kaum perempuan.

Ruang domestik dan publik ‘pernah’ menjadi diskursus penting dalam pembahasan ihwal kesetaraan gender. Diskursus yang mencoba menengahi pembagian kerja ini, sayangnya ditekuk oleh prinsip yang menyebut bahwa setiap pekerjaan tidak membutuhkan kelamin.

Dalam kaitannya dengan surah al-Isra’:36 pekerjaan tidak dipandang dari jenis kelamin, melainkan keahlian dan kecakapan manusia modern itu sendiri.

Tidak disebut sebuah ketimpangan kalau kita memaknai kesetaraan itu sebagai preferensi atas peran dan fungsi yang diemban oleh masing-masing jenis kelamin.

Sementara itu, nilai-nilai dan acuan dalam al-Qur’an tidak menghalangi seorang manusia untuk berinovasi, berkreasi dan menjadi manusia modern.

Tentu dengan kesadaran yang kuat atas norma dan nilai moral yang terkandung dalam agama yang tidak menjerumuskan seseorang untuk berakhlak tercela. Inilah yang diinginkan Allah yang mendaulat manusia sebagai “khilafah”.

Yusuf Ali Syafruddin

Pegiat di Kajian Islam dan Kebangsaan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button