Opini

Ragam Pikir tentang Agama

Peradaban.id – Ada banyak peristiwa yang mengakibatkan pandangan dan pikiran manusia berubah tentang agama. Bisa ke arah yang positif, tapi juga negatif.

Bisa menyeretnya ke pandangan damai dan penuh kasih, bahkan sebagai solusi atas persoalan kehidupan.

Tapi juga ada sebaliknya! Agama menjadi pijakan terjadinya tatanan kehidupan yang rusak, penuh permusuhan, kekerasan, hingga akhirnya kerusuhan.

Peristiwa 11092021 terjadi sekitar 20-an tahun yang lalu. Tapi semua umat manusia di dunia ini, pasti akan mengingatnya, baik sebagai sebuah tragedi, sebuah brutalisme, kriminal dan lain sebagainnya, seperti pembelaan terhadap agama atau jihad.

Sekalipun mereka lahir setelahnya, tak lepas dari rekaman peristiwa itu. Melalui keluarga, media, atau teman sekelasnya mereka mendapatkan informasinya; internalisasi nilai lalu berwujud ke laku sosial.

Pandangan dan pikiran manusia terhadap agama, pada akhirnya tidak sekadar menjadi prasasti pribadi dalam ruang ingatan, melainkan bisa diwariskan, bisa didistribusikan, bahkan bisa dipaksakan.

Di Indonesia, tentang agama dan segala macam pikir dan pandangan orang terhadap agama pun beragam.

Baca Juga: Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru

Orang bisa memandangnya sebagai alat tukar politik. Dijajakan untuk mendulang suara, meruntuhkan tatanan keharmonisan, memeperuncing konflik SARA, bahkan penuh kebencian apabila pijakannya adalah helatan tahunan politik di Jakarta, semisal.

Tetapi, di balik langit-langit penglihatan kegelapan itu, di tempat yang lain agama menjadi sesuatu yang meneduhkan, menggambarkan toleransi, penuh hangat pelukan antar perbedaan. Semisal, saat mengingat dekapan seoarang pemuda NU terhadap bom di gereja.

Perbedaan-perbedaan pandangan dan pikiran terhadap agama berdasar pada pengalaman dan cerita-cerita. Jadi menjadi sangat penting, agama diceritakan dengan narasi-narasi meneduhkan dan mengayomi. Meskipun kita juga tahu ada cerita-cerita lain yang menyakitkan.

Kimball dalam Kala Agama menjadi Bencana menjelaskan bahwa klaim kebenaran tunggal, ketaatan buta terhadap pemimpin agama, merindukan sekaligus gandrung akan zaman ideal, menghalalkan segala cara, serta seruan perang suci menjadi pelatuk hadirnya bencana.

Bencana itu, jika kita mengamini pendapat Kimball, didorong oleh ekspresi keagamaan yang ekslusif. Yang berada di luar lingkarannya, dicap sebagai musuh. Pandangan lain yang menabrak keyakinannya, dianggap sebagai sesat. Sistem yang dianut, diyakini paling benar.

Perkembangan dunia dengan segala jenis dan macam perubahannya, dianggap melulu menjurus pada keburukan. Dunia yang ideal adalah dunia dalam keyakinan mereka.

Menaati dan menjalankan perintah pimpinannya secara dogmatis, membabi buta, menjadi ruang hadirnya bencana.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Yahya dan Sepakbola

Ekspresi ekslusif keagamaan inilah yang kian mengokohkan pola pikir umat untuk selalu membentur-benturkan dengan apa saja, termasuk dengan agama-agama yang lain.

Dalam konteks apapun, politik, budaya sampai ekonomi, akan selalu menggunakan agama sebagai instrument agama. Menjadikan agama sebagai senjata. Agama tak ubahnya sebagai kompetisi politik, harus menang pantang kalah.

Menebar ketakutan, memprakarsai ancaman, provokasi, segala cara yang idealnya mustinya ditinggalkan itu, kerap menjadi cara dan digunakan untuk menghadapi yang berbeda dan perbedaan, dan itu klaim atas nama agama. Membenarkan tindaknnya melalui legitimasi agama.

Maka perlu ada perubahan dalam pola pikir umat. Tidak menjadikan satu agama sebagai entitas yang musti behadap-hadapan dengan agama-agama lain.

Sehingga tindakan dan perilaku keagamaan tidak menimbulkan kondisi-kondisi yang merugikan. Hilangnya harmoni sosial.

Sebagaimana pendapat Gus Yahya dalam forum dialog antaragama di Riyadh (2022), bahwa hubungan antaragama oleh sebagian umat dipandang sebagai kompetisi politik.

Menurtunya, sebagaimana dilansir sindonews.com, banyak kalangan umat beragama yang memandang hubungan antaragama sebagai kompetisi politik, sehingga agama diperalat sebagai senjata politik untuk memperebutkan kekuasaan. Pola pikir ini harus harus diubah karena akan merusak harmoni sosial di antara kelompok agama yang berbeda-beda dan memustahilkan kelompok-kelompok yang berbeda itu berdampingan secara damai.

PR-nya adalah merubah pola pikir. Dengan cara yang bisa dilakukan masing-masing. Dengan narasi dan contoh yang meneduhkan. Menggaungkan transformasi pola pikir!

Ahmad Bonang Maulana

Penulis lepas. Tulisannya tesebar di ragam media cetak dan online baik nasional dan daerah. Saat ini tinggal di Jakarta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button