Opini

R20: Menaja Kembali Middle-Paradigm

PERADABAN.ID – R20 sudah pungkas seminggu yang lalu, meninggalkan radiasi kerangka paradigm peradaban baru yang tak usang dipercakapkan.

Sebagaimana Konferensi Asia-Afrika yang oleh beberapa reformis dari dua wilayah itu disebut menandai suatu era baru: The Post-Bandung World. Maka tidak berlebihan kalau R20 juga menandai suatu era pergeseran peradaban baru: The Post-Bali World.

Sebagai agenda global yang diinisiasi oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang berkolaborasi dengan Liga Muslim Dunia (Rabithah Alam Islami) ini, The Post-Bali World mempertemukan para pemuka agama dunia untuk merancang model dialog yang menjadikan agama sebagai bagian dari solusi peradaban global.

Narasi awal yang disinggung dalam forum ini, tentu, beradu argumentasi ihwal batas imajiner antara Barat-Timur yang belakangan menguat pasca Covid-19 dan ekonomi global.

Mungkin anda juga suka

Meski dalam diskursus akademik mempercakapkan Barat (Oksidentalisme) dan Timur (Orientalisme) dalam konstruksi pengetahuan bukanlah barang baru. Namun, diskursus itu sebatas telaah saja, dengan begitu sulit menghilangkan penghalang dari dua arus utama itu.

Sudah banyak bermunculan intelektual yang secara gamblang menjelaskan relasi, distorsi, kontinuitas dan diskontinuitas di antara keduanya dalam paradigma; Barat sebagai teman dan Barat sebagai lawan.

Sebut saja Hasan Hanafi (1986) yang memilih middle-paradigm, dimana tidak ada batasan antara Barat dan Timur, keduanya duo-unitas yaitu kesatu-paduan dan keterhubungan.

Kemudian Edward W Said (1979) dalam magnum-opus-nya “Orientalisme”, ia menguraikan keberadaan persesuaian antara Barat  dan Timur. Persesuaian tersebut dimaknai sebagai gerakan bersama, yaitu orang-orang Eropa yang mendefinisikan dirinya sebagai Barat, sedangkan orang lain sebagai Timur.

Mungkin anda juga suka

Lain daripada itu, Sayyid Quthb di Mesir yang menuduh Barat sebagai Fir’aun yang melawan kebenaran Musa, Jahiliah yang anti Islam, Kafir Mekkah yang menentang Nabi Muhammad, dan lain-lain.

Pada akhirnya, senarai percakapan itu mengerucut pada simpulan bahwa Barat menjadi hijab Islam. Pendapat dua awal adalah corak pandang pengetahuan, sedangkan yang terakhir lebih dekat kepada definisi teologis.  

Percakapan ini tidak baru sebab yang tergelar sifatnya sebatas pada langkah melebarkan sayap-sayap kekuatan keilmuan akademis yang kerangka dasarnya diambil dari serpihan pemikiran Michel Foucault, Edward W. Said, Samuel P. Huntington, Clifford Geertz, sampai Snouck Hurgronje, dan masih banyak lagi.

Tapi pengalaman kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa Timur, yang memegang erat prinsip tradisi, kesadaran akan keterbutuhan terhadap Barat mutlak tidak bisa digugat.

Mungkin anda juga suka

Menariknya, Gus Yahya mengerjakan agenda ini dengan tidak mengacu pada pemikir-pemikir tersebut.

Gus Yahya dengan bangga mengisahkan genealogi berdirinya Indonesia sebagai negara-bangsa, dimana banyak tokoh dari ideologi besar dunia dan agama-agama besar dunia sanggup berbagi nilai-nilai bersama sebagai etika sosial pergaulan antar bangsa.

Barat, langsung maupun tidak langsung, dewasa ini, telah mendominasi kita dalam soal ilmu pengetahuan, informasi, teknologi, bahkan ideologi.

Barat acapkali menjadi kiblat segala yang wujud dalam negara-bangsa secara global. Tapi, kiblat itu kemudian menjadi fenomena traumatik akibat kolonialisasi. Asumsi ini shohih, jika bersandar pada diktum yang dilontarkan oleh Michael Foucoult, “Knowledge is Power” pengetahuan adalah kekuasaan. Pengetahuan menjadi modal subjek mempengaruhi objek. 

Mungkin anda juga suka

Padahal, Barat sendiri, setelah penghancuran beberapa nilai tradisi mengakibatkan ketidak terjangkauan pengetahuan secara komprehensif. Mereka kehilangan lema tradisi sebab penghancuran tersebut.

Alhasil, Barat dalam hal tradisi ia mencontoh Timur. Bahkan, sangat mungkin Barat akan mengemis tradisi dari Timur. Ini semacam neo-kolonialisme. Tapi, tidak berarti ini adalah sebuah pencurian atau penistaan peradaban. jika memang niat awalnya mutlak untuk peradaban yang berkemajuan. 

Namun, batasan-batasan antara Barat dan Timur itu hakikatnya bersifat “imajiner”, bayangan dan angan-angan semata. Batasan itu hanya terbentuk dalam pikiran manusia. Tidak ada batasan yang memisahkan antara Barat dan Timur secara nyata.

Sekedar imajiner, batasan itu hantu, tak nyata, tak terlihat, bahkan sampai tidak ada sama sekali. Sehingga nampak sekali, keterikatan antara Barat dan Timur bersifat mutualis-simbiosis, saling keterbutuhan dan saling keterpengaruhan. Sekali lagi, demi kemajuan keilmuan dunia serta peradaban yang  berkemajuan.

Yusuf Ali Syafruddin

Pegiat di Kajian Islam dan Kebangsaan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button