Media

NU & Cita-Cita Peradaban (II): Pelopor Nahdlatul Ulama

PERADABAN.ID – Usulan Kiai Wahab untuk mendirikan Nahdlatul Ulama menguat setelah lahirnya Arab Saudi pada tahun 1924. Kelahiran itu memicu polemik umat Islam di seluruh dunia.

Arab Saudi yang puritan mengharuskan seluruh jama’ah Haji untuk mengikuti mazhab Hanbali dan menghancurkan makam-makam dan warisan peradaban Islam di Haramain.

Pada masa itu terjadi eksodus besar-besaran. Para ulama dari seluruh dunia yang berkumpul di Haramain, berpindah atau pulang ke negara masing-masing.

Kiai Wahab melalui jaringan Nahdlatul Wathon membentuk Komite Hijaz atas restu gurunya, Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari.

Kiai Wahab Hasbullah bersama Syaikh Ahmad Ghanaim Al Mishry menjadi wakil dari Komite Hijaz sebagai delegasi ulama pesantren di Kongres Mekkah untuk berunding dengan Raja Saud. Delegasi itu dikenal dengan “Ulama’u Nahdlah”

Perundingan itu membuahkan hasil. Komite Hijaz berhasil memperjuangkan kebebasan bermazhab dan berhasil menjaga peninggalan sejarah dan peradaban Islam yang berharga. Keberhasilan ini menjadi peran penting kaum pesantren di kancah internasional dalam membangun peradaban yang baru.

Lihat Juga NU & Cita-Cita Peradaban (I); Embrio Lahirnya Nahdlatul Ulama

Mengapresiasi keberhasilan itu, sembari mengutip Ibnu Athoillah, Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari berharap agar Komite Hijaz tidak dibubarkan dan menjadi perkumpulan besar yang bermanfaat bagi umat Islam Indonesia.

لا تصحب من لا ينهضك حاله ولا يدلك على الله مقاله

“Janganlah kau bersahabat dengan seseorang yang keadaannya tidak membangkitkanmu,
dan perkataannya tidak membimbingmu kepada Allah”

Dari peristiwa ini pula, Kiai Wahab menilai Arab Saudi belum kompeten untuk menjadi “hukmul hakim”, yang sebelumnya dipegang oleh Turki Usmani. Karena itu, Kiai Wahab membulatkan tekad untuk mengusulkan, dan memperjuangkan didirikannya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Usulan itu tidak langsung disetujui oleh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari. Beliau masih mempunyai guru, Gagasan ini harus dibawa dan didengar terlebih dahulu oleh gurunya, yaitu Kiai Muhammad Kholil Bangkalan. Ini tradisi kaum pesantren. Orang tidak akan membuat keputusan sendiri sebelum meminta pendapat gurunya.

Kiai Muhammad Kholil Bangkalan beristikharah dan mendapatkan isyarah berupa ayat Al-Qur’an:

يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِـُٔوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْۗ وَاللّٰهُ مُتِمُّ نُوْرِهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ

“Mereka ingin memadamkan api Allah, memadamkan cahaya Allah dengan ucapan-ucapan mereka, tetapi Allah adalah Dzat yang senantiasa menyempurnakan cahaya walaupun orang-orang yang ingkar tidak menyukai.” (Q.S As-Saff:8)

Melalui wasilah Kiai As’ad Syamsul Arifin, Kiai Muhammad Kholil memberi Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari tongkat sebagai bentuk perizinan. Akan tetapi, Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari masih gelisah. Beliau lalu memanjatkan do’a demi do’a, sebelum benar-benar memutuskan untuk merestui berdirinya Nahdlatul Ulama ini.

Lihat Juga Nusantara Bumi Pesantren

Ikatan rohaniyah antara guru dan murid yang sangat kuat dalam tradisi pesantren, menepis kegelisahan itu. Kiai As’ad Syamsul Arifin datang dari Madura bersama tasbih pemberian Kiai Muhammad Kholil sembari merapal wirid “Ya Jabbar.. Ya Qahhar..” sehingga sampai di tangan Kiai Muhammad Hasyim di Tebuireng.

Kiai As’ad berkata: ”Aku tidak berani memegang tasbih ini, Kiai. Karena ini pemberian langsung dari Kiai Muhammad Kholil untuk panjenengan.”

Kiai Muhammad Hasyim mengambil tasbih yang terkalung di tubuh Kiai As’ad itu sembari merapal wirid “Ya Jabbar.. Ya Qahhar..”

Berdasarkan jalinan isyarah inilah, Kiai Muhammad Kholil Bangkalan mengizinkan Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama. Yang diinginkan adalah supaya Nahdlatul Ulama menjadi wasilah untuk menyempurnakan cahaya Allah (nurullah).

Nurullah adalah sesuatu yang sangat kompleks, sangat agung, yang tidak bisa kita reduksi hanya dengan fikih, tidak bisa kita reduksi hanya dengan kekuasaan, tidak bisa kita reduksi hanya dengan kebesaran-kebesaran dan keunggulan-keunggulan material. Di dalam nurullah ini ada hal-hal yang bersifat rohani, yang spiritual, yang dibutuhkan oleh seluruh umat manusia secara universal.

Satu kilasan sejarah ini, barangkali belum pernah dijelaskan dan dijabarkan oleh para pengamat, kalangan akademis, sejarahwan serta lainnya, dan KH Yahya Cholil Staquf Ketua Umum PBNU dalam bukunya Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama mampu melengkapi sempalan fakta yang belum terungkap itu.

Video lengkapnya bisa dilihat di bawah ini:




Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button