Opini

Kata Orang Tua, Jangan Menyerupai Nasibnya

PERADABAN.ID – Sebagai anak, bukankah yang menjadi miniatur pertama dalam melihat dunia adalah orang tua? Tapi kenapa setelah tumbuh dewasa kita dituntut tidak seperti dirinya? Atau dengan bahasa lain, sedari kecil, mereka melulu bilang, agar si anak menemukan jalannya sendiri saat menjadi dewasa?

Jika tidak pernah ada percakapan ini di antara anak dan orang tua, barangkali si anak sudah dimasukkan dalam daftar waris keluarganya yang kadung melimpah.

Tapi sebagian kita, mungkin saya, yang lahir dari keluarga nelayan atau petani, bisa jadi, tersirat maupun langsung diucapkan, akan mendapati hal demikian. “Sekolah yang rajin, biar tidak jadi seperti Bapak!” demikian kira-kira.

Maka, saat sang orang tua menggoreng kulitnya di tengah ladang, dia tidak pernah berkata letih di hadapan anaknya. Atau saat kulitnya disirami garam air laut, tidak pernah mengatakan getirnya dikoyak arus dan ombak.

Tidak sesempurna itukah orang tua? Hingga dia tidak percaya diri atas semua keringatnya yang telah membesarkan anaknya? Belum tentu – dan itu tidak tepat.

Baca juga:

Menjadi petani dan nelayan, adalah barang mewah mungkin. Pekerjaan yang mempertemukan tubuh dengan alam (kecuali tengkulaknya di mana-mana). Sekaligus, toh, dari situlah anak-anak beserta keluarganya tumbuh.

Lagian, para orang tua itu juga tidak punya keahlian menjadi kelas yang pandai mengeluh. Dia tidak cerewet dengan hiruk-pikuk yang terjadi di luar kapabilitasnya. Tidak bicara tentang akses, apalagi kualitas.

Yang dia tahu – kalau tidak ingin dikatakannya sebagai kreativitas yang luhur – adalah kecimpung pikir dan jiwanya untuk anaknya, agar tidak mengalami nasib serupa dirinya. Dengan mengeluarkan segala yang dipunyainya, untuk anaknya semata.

Akan tetapi, relasi keluarga dalam konteks sosial, memang tidak semata hubungan orang tua dan anak. Tetapi lebih jauh, ada patokan-patokan yang lain, yang musti dijalaninya. Tidak lain, ini berkaitan “kerangkeng” besar dalam kehidupan sosial.

Baca juga: Berita dan Informasi Gus Yahya Terbaru

Ketahanan keluarga dalam konteks ini berarti tidaklah mudah. Maka diperlukan satu perlindungan sosial yang koheren dan komprehensif. Sebab, jika tidak berlebihan, perang Hamas-Israel pun akan berpengaruh terhadap harga tahu-tempe yang jadi hidangan keluarga di rumah.

Intervensi atau program yang sifatnya ditujukan ke keluarga harus memaparkan ini lebar-lebar di layar keluarga. Bahwa keluarga, sebagai entitas sosial, sangat mudah terkena imbas oleh kejadian-kejadian di luar penglihatannya. Kendati dalam banyak hal, orang tua sudah luhur mendidik anaknya.

Ahmad Bonang Maulana

Penulis lepas. Tulisannya tesebar di ragam media cetak dan online baik nasional dan daerah. Saat ini tinggal di Jakarta.

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button