BeritaKisahKongres GP Ansor

Gus Yaqut, Antara “Selamat” dan “Berbelasungkawa”-nya Gus Mus

PERADABAN,ID – Gus Mus, sempat berada di titik kebingungan kala Gus Yaqut terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor dalam Kongres XV GP Ansor di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta, tahun 2015 silam.

Atas terpilihnya Gus Yaqut, apakah Gus Mus harus bersyukur dengan mengucapkan “selamat” atau “berbelasungkawa”. Bagi budayawan dan kiai masyhur ini, kursi-kursi posisi strategis selalu dipandang sebagai cobaan dan amanah.

Gus Mus menilai bahwa jabatan dan kedudukan lebih sebagai cobaan daripada sebuah nikmat. Bukan pula anugerah yang patut diharap-harap. Jabatan adalah amanah dan tanggung jawab.

Baca juga:

Yang paling mengejutkan, seperti tahun 2015 saat Muktamar NU di Jombang, Gus Mus memilih menolak menjabat sebagai Rais Aam. Kendati sebelumnya, Gus Mus menggantikan KH Sahal Mahfudz yang wafat pada 2014.

Oleh karena pandangannya yang menempatkan posisi dan jabatan sebagai amanah dan tanggung jawab, Gus Mus menitip lima (5) pesan kepada Gus Yaqut.

Pertama adalah kaderisasi. Kaderisasi harus diprioritaskan tidak hanya bagi kader, akan tetapi juga bagi Gus Yaqut sendiri untuk menjadi pemimpin. Kedua, adalah kepemimpinan profetik.

Pesan Gus Mus, kepada ponakannya itu jelas, bahwa pemimpin harus mencintai dan dicintai, laiknya nabi Muhammad SAW. Pemimpin yang ikhlas melayani dan mengutamakan kepentingan kadernya ketimbang kepentingannya sendiri. Pemimpin yang ditaati karena dicintai, bukan karena ditakuti.

Pesan ketiga, adalah kemandirian. Kemandirian ini dimaksudkan agar GP Ansor secara organisasi dan kader-kadernya bisa benar-benar mandiri. Keempat, menjaga ajaran para pendahulu dalam mempertahankan ekspresi keagamaan yang santun, rahmatan lil alamin, dan ber-Indonesia dengan santun, arif dan cerdas.

Baca juga: Gus Yahya: Tidak Ada Keputusan NU Tanpa Pertimbangan Agama

Terakhir adalah, selalu menundukkan diri dan memunajatkan pinta kepada Allah SWT di setiap upaya dan langkah dalam memimpin GP Ansor.

*Diolah dari buku Gus Yaqut Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button