Opini

Gus Yahya, The Special One dan Dunia yang Serba Mungkin

PERADABAN.ID – Nahdlatul Ulama mengenang Gus Dur lebih dari bentuk nostalgia yang menghibur. Jika pun kerinduan terhadapnya kemarin-kemarin masih sering hadir, bahkan di kap belakang truk, dekade ini mereka paham bahwa kerinduan itu lebih dari sebuah kerinduan, Gus Dur adalah dunia yang serba mungkin.

Gus Dur adalah “dunia yang serba mungkin”, penuh rahasia, penuh kelokan dan ironi. Dunia macam itu digerakkan oleh semangat untuk terus mencoba dan menjajal segenap rahasia hidup.

Kebebasan menjadi penting di sana. Tak ada otoritas yang bisa menentukan sesuatu. Semua jenis kekangan dicairkan karena umat dari dunia hanya ingin menuruti perasaan hatinya, meminjam kalimatnya Roestam Effendi, sebab laguku menurutkan sukma.

Gus Dur melunakkan segala pengekangan yang menyangkut harkat dan martabat manusia, kerena itu Gus Dur adalah kemanusiaan universal itu sendiri.   

Tidak heran kemudian Gus Yahya bertanggung jawab untuk menghidupkan Gus Dur. Seperti yang beliau pertegas dalam sesi “Talk Show Susi Cek Ombak”.

“Ketika saya ditanya, apa ini, mau dibawa ke mana NU ini. Saya bilang dengan sikap “Menghidupkan Gus Dur”. Karena saya sendiri yakin bahwa memang masa depan yang masuk akal itu adalah masa depan seperti yang dipahami oleh Gus Dur, yaitu masa depan kemanusiaan universal.” 

Agenda besar “Menghidupkan Gus Dur” harus melewati dan mengubah beberapa hal fundamental terlebih dahulu. Pertama, meminjam The Special One: Jose Mourinho, strategi awal dalam menahkodai sebuah tim sepakbola adalah mengenali karakter supporter (understand your audience) terlebih dahulu.  

Baca Juga Gus Dur, Gus Yahya dan Sepakbola

Gus Yahya berusaha mengenali karakter nahdliyin dengan memperkuat jaringan kaderisasi jauh sampai mengakar di tingkat akar rumput. Kaderisasi ini hal mendasar namun keuntungannya bisa dikelola dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Dengan kaderisasi, Gus Yahya tidak sedang melatih orang untuk menjadi NU melainkan melatih orang NU untuk menyelami makna jam’iyyah, perkumpulan. Mengkapitalisasi modal sumber daya manusia dengan didikan sebagai titah masa depan dalam membangun konstruksi peradaban baru yang berfaedah bagi Indonesia dan dunia internasional.

Kedua, Nahdlatul Ulama didirikan bukan sebagai panggung hiburan. Pranata Nahdlatul Ulama bekerja di wilayah umat dan kebangsaan. Orang tidak lantas naik daun tanpa keunggulan psikologis dalam mengabdi (khidmah) kepada Nahdlatul Ulama. Keyakinan lama mengatakan, siapa yang berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama secara tulus, ia akan menuai keberkahan kelak di kemudian hari.  

Strategi yang tidak kalah penting dalam upaya “Menghidupkan Gus Dur” adalah merajut dan mendekatkan kembali Nahdlatul Ulama ke dalam kancah pergulatan dunia internasional.

Baca Juga Ketua PBNU; Buya Tokoh yang Sangat Dihormati Gus Dur

Indonesia, kalaupun benar, masih dianggap menduduki kasta negara underdog, pengekor. Tapi bukankah yang tersepelehkan itu justru mempunyai peluang besar untuk memuncak? Dari sini kita memahami apa yang disebut The Special One sebagai “the underdog attack”, serangan tim tak diunggulkan sebagai jalan panjang Nahdlatul Ulama untuk hadir sebagai rumah kembali Islam di kancah internasional.

Mengingat pertarungan raksasa geopolitik antara Amerika Serikat dan China, antara Arab Saudi dan Iran, telah menjadikan dunia terbelah, bahkan tercabik-cabik. Muncul juga gerakan-gerakan ekstremis, yang menjadi beban dunia Islam semakin berat. “Kalau dunia terpecah belah seperti ini, peradaban manusia tidak akan bisa bertahan. Harus ada solusi yang serius”, ujar Gus Yahya dalam banyak kesempatan.

Satu dekade ke belakang, Gus Yahya sudah malang-melintang di kancah internasional untuk memperkenalkan sebuah nomenklatur baru dalam diskursus agama-agama, yaitu “Humanitarian Islam”. Gagasan ini menjadi trade mark dari upaya Gus Yahya menyaringkan kembali gagasan Gus Dur. Islam humanis ibarat oase di tengah gersangnya nilai-nilai kemanusiaan di seantero dunia.

Melalui “Humanitarian Islam” ini Gus Yahya mendorong semua pengikut agama untuk terlebih dahulu memaknai dunia sebagai tempat hidup bersama, rahmatan lil ‘alamiin. Kemudian mendorong rahmah atau kasih sayang sebagai nilai-nilai peradaban yang fardu dipraktikkan sebagai jalan tengah antar konflik lintas peradaban. Setelah itu, baru di lingkaran NU kita menggerakkan paradigma kontekstualisasi atau rekontekstualisasi dari wawasan-wawasan keislaman agar Islam menjadi solihun li hadzihi zaman.

“Kita harus rumuskan dulu gagasannya agar gerakan globalisasi NU ini dibangun di atas gagasan yang kokoh”, kata Gus Yahya di sebuah kesempatan.

Menghidupkan Gus Dur. Warisan dan pemikiran Gus Dur sebenarnya akan selalu hidup, khususnya melalui Gusdurian, anak-anak ideologis Gus Dur. Tetapi kata “menghidupkan” mempunyai makna progresif; gagasan Gus Dur harus hidup pada masa kini dan masa yang akan datang. Kata itu mempunyai energinya tersendiri, karena manifesto Menghidupkan Gus Dur akan didukung sepenuhnya melalui infrastruktur struktural NU.

Yusuf Ali Syafruddin

Pegiat di Kajian Islam dan Kebangsaan

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button